Kamis, 12 Mei 2016

PROM #115 : JERAT LARA



Setiap pagi, aku membawakanmu kopi. Kopi yang sama sejak seribu hari keberadaanku di sini. Kau suka kopi pahit, dan pekat. Sesuai dengan kepribadianmu yang dingin, misterius, namun memikat. Orang menganggapmu manusia angkuh. Tapi bagiku, keangkuhanmu adalah bukti kekuasaanmu. Kekuasaan atas orang-orang di sekitarmu. Kekuasaanmu atas diriku dan hatiku.

“Jangan pernah mengedepankan perasaan. Itu hanya akan melemahkanmu,” katamu lirih, saat jarak wajah kita hanya sejengkal. Kupandang lurus matamu yang hitam, berharap ada lorong disana untukku masuk menuju hatimu. Hati yang selama ini kau sembunyikan dari dunia.
Yeah, mungkin kau benar. Aku hanya perempuan yang mengedepankan perasaan, yang terjerat jaring pesona yang ... entah sengaja atau tidak telah kau tebarkan. Itu mengikatku begitu erat. Hingga mematahkan logikaku akan kenyataan siapa kau, siapa aku.
Dan pagi ini tak kutemukan kau. Ah, bodohnya aku. tentu saja. Ini hari pernikahanmu. Dan kau tak mengundangku. Semudah itu kau lupa, aku selalu menemanimu dalam semua keputusasaan, membangkitkanmu dari setiap keterpurukan.
Aku berdiri di depan bangunan yang menjulang, lalu menengadah. Lantai 13 Hotel Paramitha. Disanalah kau akan melangsungkan pernikahan.
“Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang lelaki berpakaian jas lengkap. Dari alat komunikasi yang dibawanya, mungkin dia salah satu pegawai keamananmu.
“Saya Apsari, asisten pribadi Pak Indra. Saya membawakan beberapa barang yang tertinggal,” jawabku setenang mungkin.
Lelaki itu memintaku menunggu. Dia berbicara dengan seseorang lewat alat komunikasi yang digenggamnya. Ah, sial! Aku tak punya banyak waktu!
“Mari, Mbak. Saya antara ke kamar Pak Indra,” katanya sambil berjalan mendahuluiku melalui lorong dengan hiasan buket bunga di kanan dan kirinya. Dia berhenti di sebuah kamar, mengetuk pintu, lalu membukanya.
Aku bergeming. Saat melihatmu, mendadak aku seperti lumpuh. Lelaki itu mempersilahkanku masuk. Aku melangkah seperti zombi.
“Apa yang tertinggal?” tanyamu tanpa basa basi.
“Aku, perasaanku, hidupku.” Aku menutup pintu dan berharap tak seorangpun selain kita. “Semua tentangku kau tinggalkan!”
Kau menatapku lurus. “Berulangkali kukatakan, jangan pernah bermain perasaan,” sahutmu cepat. Tapi aku tak peduli.
“Berulangkali kucoba, tapi aku tak bisa.” Suaraku bergetar. “Jeratmu terlalu kuat. Kau telah menguasaiku.” Ada yang basah di sudut mataku. “Tetaplah bersamaku, Indra.”
“Jangan bodoh!” Suaramu meninggi. “Kalau pernikahan ini gagal, suntikan dana ke perusahaan juga akan gagal!” Kau menghela nafas panjang, mengalihkan pandanganmu dariku, lalu kembali menatapku. “Maaf, aku tak punya jalan lain.”
Aku berlari ke arahmu. “ Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya.” Kau berusaha menepis, namun kemudian mengiyakan. Sesaat kemudian hening, seolah waktu mengamini kebersamaan kita.
“Maafkan aku juga, Indra,” kataku lirih dalam tangis.
Tubuhmu berguncang sekali. Lanjutku, “Aku pun tak ada jalan lain.” Tubuhmu berguncang untuk kedua kali. “Kalau pun kehidupan tak mengizinkan kita bersama ...” Kurasakan cairan hangat ditanganku seiring semakin dalam aku menancapkan belati ke tubuhmu. “ ... biarlah kematian yang menyatukan kita.”
Kutatap nanar tubuhmu tergeletak di lantai.
Angin menerpa kulitku dari satu-satunya jendela di kamarmu. Kini aku telah berdiri di tepiannya. Menatap tanpa daya semua kenangan kita yang perlahan mulai sirna. Aku mulai gontai dan tak mampu bertahan. Kubiarkan tubuhku melayang. Tapi aku lupa, sayang. Aku hanya kupu-kupu yang patah sayapnya, yang tak mampu lagi terbang.


The End



Related Post :

2 komentar:

  1. Waduw...keinget drama mandarin Love At The Aegean Sea, sad ending juga seperti ini. Tapi bedanya yang cewek masuk RSJ, duh perasaan itu emang mematikan ya kalo kita nggak bisa mengontrolnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, belum pernah nonton film nya.

      Benar, perasaan itu mematikan ^^

      Hapus

Terimakasih telah berbagi komentar ^^